16 Nov.
Posted by
Agny Gallus Pratama
|
1 comments
“Salt”, Inspirasi Bagi Revolusi
Apakah Anda pernah melihat film Salt (2010)
yang diperankan oleh Jolie? Kalau sudah, apa yang Anda pikirkan?
Salt merupakan film bertemakan
konspirasi dalam menghancurkan Amerika, seperti White House Down atau Olyimpus
has Fallen yang baru-baru ini ditayangakan di Bioskop. Walaupun, ending dalam
film ini sama seperti yang lain, yaitu Amerika tidak dapat dijatuhkan, Salt
mempunyai alur cerita yang lebih baik dan lebih memukau dibanding yang lain.
Salah satu bagian yang memukau saya
adalah mengenai persiapan Mantan Agen Intelejen Rusia (Eks KGB), Oleg Vasilyevich Orlov, yang
mempunyai dendam terhadap Amerika, dalam menghancurkan Amerika. Diawali dengan
merekrut anak-anak yang sengaja dibuat yatim piatu ( anak-anak ini diambil
secara paksa dari orangtua orangtua yang mempunyai otak cemerlang), kemudian
mereka di ajarkan bahasa Inggris terlebih dahulu. Apabila diajarkan bahasa
rusia terlebih dahulu, aksen rusia akan terasa ketika mereka mempelajari bahasa
inggris. Setelah itu, didoktrin sedemikian rupa sehingga sangat patuh dengan
pemimpin disana, tidak lupa juga diajarkan bagaimana cara berperang, intelejen,
dll. Hal yang paling penting dalam pendoktrinan tersebut adalah pemberian misi
di masa depan. Maksudnya seperti apa? Mereka dari awal sudah didoktrin untuk
men”jabat” beberapa peran yang penting untuk menaklukan Amerika kelak. Seperti
peran utama dalam film ini, Evelyn Salt, dia mempunyai tugas untuk menjadi agen
CIA (dengan jabatan penting). Di dalam film, nanti akan ditemukan teman-teman
Salt ketika kecil yang telah menjadi bagian dalam NATO hingga ketua CIA sendiri
(Salt tidak menyadari sebelumnya).
Walaupun dibutuhkan waktu hingga 30
tahun untuk menjalankan misi ini, namun satu hal yang mengagumkan adalah
bagaimana mereka masih bisa menanamkan idealisme hingga dewasa, bahkan hingga
dapat mewujudkannya..
Kejadian ini merupakan bagian yang saya
suka dalam film Salt, karena dengan ini terciptalah suatu ide, khususnya
mengenai PERUBAHAN.
Saat ini kita bisa mengetahui bahwa
oknum-oknum “bengis” Pemerintah dan DPR, DPRD, dan kawan-kawannya sudah mulai
“tuli”. Kenapa? Karena omongan rakyatnya sudah tidak didengar lagi. Jeritan
rakyat seperti angin lalu bagi mereka, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Mahasiswa sebagai aspirator masyarakat pun juga dianggap seperti anjing
menggonggong. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita sadar bahwa cara lain perlu
ditempuh untuk membuat mereka mendengar kembali. Namun, anehnya mahasiswa masih
saja melakukan demo-demo yang terkadang di “tumpangi” orang-orang tertentu
bahkan kerap kali meresahkan masyarakat karena melakukan demo anarkis. Membakar
gedung, merusak pagar, dsb. merupakan tindakan bodoh yang seharusnya tidak
dilakukan ketika berdemo. Mengapa? Karena perusakan itu membutuhkan perbaikan
kembali yang mana uang yang digunakan adalah uang rakyat (APBN). Kesimpulannya,
kerugian terbesar ada di pihak pendemo, karena pertama tidak didengarkan,
kemudian harus membayar kerugian yang telah dilakukan (baca : pajak).
Bagaimana kalau kita mencoba menggunakan
cara yang digunakan Oleg Vasilyevich
Orlov. Mendoktrin mahasiswa-mahasiswa dalam satu kelompok kemudian diberikan
misi untuk menjadi “pejabat” pada suatu saat nanti. Nanti ketika waktunya tiba “menjabat”,
akan mudah bagi mereka untuk menjalankan suatu program karena mereka semua Satu
Visi dan Satu Misi. Atau mungkin benar-benar menjiplak cara Orlov dengan
menggunakan anak-anak Indonesia yang cerdas-cerdas di didik dari kecil, di brainwash, bahkan dibuat menjadi
ULTRANASIONALIS. Aku yakin mereka akan membuat Indonesia menjadi negara
Superpower. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkan hal ini, tapi
hasil yang didapatkan akan memberikan perubahan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Indonesia merupakan negara yang kaya akan SDA
nya dan SDM nya, sehingga, Indonesia dapat menjadi negara ADIDAYA mengalahkan
Amerika, Rusia, dan para sekutunya. Namun sayang, entah mengapa, negara ini
selalu dijadikan “Sapi Perah” oleh negara lain. Hal ini dikarenakan
“Bedebah-Bedebah” negara yang mementingkan dirinya sendiri. Sudah saatnya
mereka kita usir layaknya Yahudi yang diusir dari seluruh Eropa karena menjadi
penyakit bagi negara-negara Eropa.
Indonesia merupakan negara yang beruntung
karena tidak pernah mengalami masa-masa yang sangat kelam seperti Jepang ( di
Bom Atom ), Jerman dan negara-negara eropa lain ( 2 Kali perang Dunia), Vietnam
(Perang Saudara), China (Pembantaian), Kamboja (Pembantaian), bahkan Korea
Selatan (Perang Saudara) yang mana mereka hampir hancur sebagai suatu negara.
Seharusnya kita bisa menjadi negara yang melebihi negara-negara tersebut, namun
apa daya, negara Indonesia tercinta ini justru kalah dibanding mereka.
Apa yang salah dari negara kita ? Apakah kita
perlu Dihancurkan dan Dibangun kembali? Bukan kah kita sudah Reformasi?
Ternyata Reformasi belum membawa hasil yang
signifikan, orang-orang yang dulu menjadi “PEMIMPIN” demonstrasi, ternyata
ketika menjabat DPR tak membawa pengaruh apa-apa. Hal ini dikarenakan mereka
terbawa lingkungan yang penuh tipu daya.
numpang komen lus hehe..
ReplyDeletesebenernya lus klo menurut aku, ttg doktrin tu udah ada dlm tubuh partai politik (parpol)..
tapi parpol di indonesia ga punya visi (Indonesia menjadi negara yang maju), yg ada cuma misi yaitu gimana caranya agar partai mereka berkuasa (menempati posisi pejabat di pemerintahan)..
karena untuk mencapai visi butuh usaha ga sedikit n kadang harus "mengorbankan" beberapa kepentingan/kalangan..
hal tsb diakomodir oleh parpol untuk mencapai misi mereka lagi yaitu berkuasa di pemerintahan seolah-olah visinya itu ya memiliki pengaruh di pemerintahan..
ya jadinya antar parpol cuma saling menyalahkan aja, keputusan partai a salah, keputusan partai b yg bener, padahal setiap keputusan pasti memiliki pro n kontra..
seperti halnya kita tak bisa menyenangkan semua orang, sebuah keputusan (berkaitan dgn kebijakan pemerintah) pastilah tidak jauh berbeda, akan ada pihak yg dirugikan dsb..
namun pertanyaannya itu adalah apakah keputusan tersebut mampu membantu pemerintah untuk mencapai visi Bangsa Indonesia yaitu menjadi negara yg maju..?
krn klo bicara visi itu jangka panjang, memang harus ada pengorbanan dan mungkin ada yg dikorbankan..
dulu pernah kepikiran bangun sekolah sd-universitas yg punya fasilitas super n gratis semua org bisa masuk tapi harus punya standar kompetensi yg ditetapkan sekolah n selama sekolah dibekali (klo didoktrin bahasanya gmana gtu) ilmu, mental, moral dll sehingga nantinya menjadi seorang nasionalis..
output dr sekolah itu jd org2 yg punya visi sama n menempati posisi2 vital di dalam maupun di luar pemerintahan (professional)..
ga kebayang gimana majunya Indonesia klo itu kejadian haha..
o iy yg ttg parpol diatas tu bkn concern masalah pemerintahan skrg, tu umum yg ada di Indonesia (menurut aku), ntar dikira kampanye lg haha..
jadi komen panjang dah, btw nice blog bro..